2019

NO-BRAIN DANCE VIDEO SERIES

NO-BRAIN DANCE VIDEO SERIES is a public video art project that collaborates Y-DRA music and people dance. In some Indonesian local dance music, music is not separated from the dance. In these series, Y-DRA collaborated with dancers, art performer, local music audience, non-artist, children, youtubers, tiktok people, thug, etc. As the music based on embodiment (embodiment music) so the dance is non-choreograph movement, it’s more spontaneous and let the body move by itself. There’re also social and historical context within the movement, but it’s just the art of no-thinking. No-BRAIN DANCE

The video series will be update weekly

please subcribe Yennu Ariendra YouTube Channel to get an update

NO-BRAIN DANCE VIDEO SERIES on YouTube

Here are the published videos:

YDRA – Pencak Siang Bolong. Starring BERGERAK
[No-Brain Dance Video Seri #04]

YDRA – Goyang Tobong. Starring THE SISTERS COMPANY
[No-Brain Dance Video Seri #03]

YDRA – Order/Disorder. Starring ARI DWIANTO
[No-Brain Dance Video Seri #02]

YDRA – No-Brain Dance. Starring AYU PERMATA SARI
[No-Brain Dance Video Seri #01]

Y-DRA – Kombatan Aspal Gronjal. Starring KIKI PEA
[No-Brain Dance Video Seri #00]

Y-DRA – Milisi Miskin Kota. Starring CANTHING, GANESH & ASA
[No-Brain Dance Video Opening]

2019

ALBUM: Y-DRA – NO-BRAIN DANCE (2019)

INFO & FREE DOWNLOAD     ///   SPOTIFY

  • RELEASE DATE /17 April 2019
  • CATALOG /YESNO093

Production Notes

Produced by Yennu Ariendra, Trauma Irama Record, Wok The Rock
Written by Yennu Ariendra
Mixed and Mastered by Yennu Ariendra
Song titles by Yennu Ariendra and Wok The Rock
Cover designed by Wok The Rock
Illustration from Angst II by Suvi Wahyudianto
TRACKLIST:
  1. Sayyidah Sound Sistim
  2. Kombatan Aspal Gronjal
  3. Order/Disorder
  4. Goyang Tobong
  5. Koplotronika
  6. No-Brain Dance
  7. Ada Tiada
  8. Trance Korslet
  9. Milisi Miskin Kota
  10. Patrol Pesisir
  11. Duel Jempol
  12. Pencak Siang Bolong
  13. Sampur Kulon Girang
2018

ALBUM: FAR AWAY SONGS (2018)

SPOTIFY /// iTUNES /// APPLES MUSIC /// AMAZON /// DEEZER

Yennu Ariendra – Far Away Songs (2018)

  1. Departure. Cross the Sea
  2. Shadow Bird. The Messenger
  3. The Visitor
  4. The Disappearance
  5. Sleep
  6. Faraway Home
  7. The Courage
  8. The Unseen
  9. Letter to the Sky

All compositions created by Yennu Ariendra

Performed, recorded, mixed & mastered by Yennu Ariendra at Rumah Kasidi Studio

Additional Musician:

Danish Wisnu Nugroho, drum on compositions number 1, 4, 8 and 9

Richardus Ardita, electric bass on compositions number 1, 4, 6, 8 and 9

 

All music compositions also part of Papermoon Puppet Theater’s “Letter to the Sky” © 2018 performance score.

 

Produced by Yennu Ariendra, Yopie Irawan and Traumairama Record © 2018

Distributed by Traumairama Record © 2018

Cover design by Yennu Ariendra

 

ALBUM LINKS

Spotify = https://spoti.fi/2JbzX5i

Amazon = https://amzn.to/2R3BNrz

Deezer = https://bit.ly/2OzWlLt

iTunes = https://apple.co/2R8gzZN

Apple Music = https://apple.co/2q1OHe4

Napster = https://bit.ly/2PJGaI2

Tidal = https://bit.ly/2NTcuXc

 

YOUTUBE

https://bit.ly/2Aki4yf

 

2018

ALBUM: RAJA KIRIK (DOG KING) 2018

INFO & FREE DOWNLOAD   ///   VIDEO   ///   SPOTIFY   ///   IMAGE OF THE GIANT

 

 

Part of Image of the Giant, “Raja kirik” inspired by “Jaranan Buto” performance in Banyuwangi. An in-trance journey that captures the character of folk art as a symbol that represents long resistance of the outcast. A war of narration

Release Date : June 8, 2018

Yennu Ariendra : Electronic, J Moong Santoso Pribadi : DIY/Hand Made Instrument

Produced by Image Of The Giant Project, Recorded in Rumah Mo’ong. Mixing & Mastering by Yennu Ariendra

Cover drawing taken from “Letter of Damarwulan” (World Digital Library_MSS.Jav.89), cover design by Wok The Rock

Released by Yes No Wave Music

Track:

01. O Sing (The Nay Sayer)

02. Alas Tyang Pinggir (The Outcast Forest)

03. Buto Abang (Red Giant)

04. Raja Kirik (Dog King)

05. Bang Bang Wetan (Dawn)

06. Jaran Jaran Ucul (Running Horses)

All music and artworks using Creative Common License

 

RAJA KIRIK PERFORMANCES

 

RAJA KIRIK VIDEOS

 

Raja Kirik from Banyuwangi

Raja Kirik dari Banyuwangi

Gunawan Maryanto

 

 

I want to start writing with a short story because I’m an author – not a musician nor music critics.

Saya ingin mengawali tulisan ini dengan sebuah cerita singkat sebab saya seorang pencerita—bukan pemusik bukan pula pengamat musik.

There was Jaka Umbaran. Obviously, it’s not a real name. Jaka means unmarried young man, while Umbaran means wandering around at will. Jaka Umbaran is a nickname for a young man who still wanted more experience. In his odissey he met Kebo Marcuet, the ruler of Blambangan. The unbeatable knight with two horns on his head who went on a rampage to collect from Majapahit the promised reward for his merit. Nobody in Majapahit could defeat him. Kebo Marcuet is also a nicknames, a humiliating one. Kebo is buffalo, to describe him who went on a rampage like a stupid buffalo. While Marcuet means dissappointed. The threathened Queen Kencana Wungu of Majapahit then held a contest: whoever could defeat Kebo Marcuet will become her husband and the regent of Blambangan. So Jaka Umbaran took the opportunity to challenge Kebo Marcuet. They fight for days until in one hoodoo days Kebo Marcuet got slain. His body was drowned in Brantas river. Jaka Umbaran win eventhough his face and body was damaged. Later, he became the Regent of Blambangan, known as Menak Jingga – The Red Faced King. As happened to Kebo Marcuet, Menak Jingga also feel dissappointed because Kencana Wungu broke one of her promise. She didn’t want to be married by Menak Jingga whose body now ugly and defective like a dog. Menak Jingga went on a rampage. And the story recur: Kencana Wungu held the same contest once again.

Adalah Jaka Umbaran. Jelas ini bukan nama asli. Jaka berarti pemuda lajang sedang Umbaran adalah berkelana sekehendak hati. Jaka Umbaran adalah sebutan untuk seorang pemuda yang masih mentah dan kepingin matang dengan cara mengembara menantang kehidupan. Dalam pengembaraannya ia berjumpa dengan Kebo Marcuet, penguasa Blambangan, seorang pendekar pilih tanding dengan dua tanduk di kepalanya yang tengah mengamuk untuk mendapatkan hadiah yang dijanjikan karena jasa-jasanya bagi Majapahit. Tak seorang pun di Majapahit yang sanggup mengalahkannya. Kebo Marcuet juga hanya nama paraban, jejuluk untuk merendahkannya. Kebo adalah kerbau untuk menggambarkan dirinya yang mengamuk bagai kerbau dungu, sedangkan Marcuet berarti kecewa. Merasa dirinya terancam Sang Ratu Kencana Wungu mengadakan sayembara: barang siapa bisa mengalahkan Kebo Marcuet maka ia akan menjadi suaminya dan Adipati Blambangan. Jaka Umbaran pun menantang Kebo Marcuet. Berhari-hari mereka bertarung hingga di sebuah hari yang naas Kebo Marcuet tewas. Tubuhnya tenggelam di Kali Brantas. Jaka Umbaran menang meski wajah dan tubuhnya hancur lebur. Jaka Umbaran lantas menjadi Adipati Blambangan dengan gelar Menak Jingga—Raja berwajah merah. Tapi sebagaimana Kebo Marcuet, Menak Jingga juga meradang kecewa sebab Kencana Wungu mengingkari janjinya. Ia tak mau diperistri Menak Jingga yang wajah dan tubuhnya telah berubah menjadi cacat tak ubahnya seekor anjing. Menak Jingga mengamuk dan tak seorang pun di Majapahit sanggup menghadapinya. Dan cerita berulang: Kencana Wungu membuka kembali sayembara yang sama.

This story comes from my childhood memory when I was regularly watching Ketoprak performance (Javanese traditional theater play). Eventhough he’s a villain character, I was secretly admiring Menak Jingga. He’s my childhood hero, someone who fight for his pride and his rights eventhough at the end of the story he was tragically defeated. Later I realize that the story was made up by Mataram to destroy the image of Blambangan people – the place we know as Banyuwangi nowaday. Blambangan were Kebo Mercuet and Menak Jingga. Blambangan was a greedy dog who never feel enough. Blambangan is a bunch of wizardry people having no fear. What truly happened was the opposite. Blambangan is an area that always been contested. Majapahit competed with Bali to occupy the peninsula. Mataram and VOC also insisted to own it. But Blambangan survived from time to time. Eventhough later it was destroyed as well as Menak Jingga.

Cerita di atas saya ambil dari ingatan yang lamat-lamat dari masa kecil saat saya masih rajin menonton pertunjukan ketoprak. Meski merupakan tokoh antagonis diam-diam saya mengagumi Menak Jingga. Ia adalah pahlawan kecil saya, seseorang yang berusaha menegakkan dirinya dan menagih sesuatu yang telah dijanjikan meski pada akhir cerita mesti kalah dengan tragis. Belakangan saya tahu bahwa cerita tersebut adalah sebuah cerita rekaan Mataram untuk menghancurkan imaji orang-orang Blambangan—Banyuwangi sekarang. Blambangan adalah Kebo Marcuet dan Menak Jingga, si pungguk yang merindukan bulan. Blambangan adalah anjing rakus dan tak pernah berpuas diri. Blambangan adalah sekumpulan orang sakti yang tak punya rasa takut. Padahal yang berlangsung adalah sebaliknya. Blambangan adalah wilayah yang selalu diperebutkan. Wilayah yang berkali-kali hendak ditaklukkan. Majapahit bersaing dengan Bali untuk menguasai tanah semenanjung itu. Mataram dan VOC juga berkeras menginginkannya. Tapi Blambangan dari waktu ke waktu terus bertahan. Meski harus hancur lebur sebagaimana Menak Jingga.

Currently, as a musician Yennu Ariendra doing much works that related to his hometown, Banyuwangi. I don’t know exactly since when he started to explore history and tradition of Banyuwangi. The encounter of Garasi Theater and Banyuwangi (including me) happened since the process of Waktu Batu in 2002 when we visited Kemiren Village. As far as I know, as fellow resident artist of Garasi Theater, Yennu started to explore Banyuwangi intensely since the process of Yang Fana adalah Waktu. Kita Abadi (2015). In that time, he started to research the history of violence based on his family story. He also tried to trace it through the Gandrung songs and Kendang Kempul. His findings was getting more deep and intense in the process of  Teater-Musik Menara Ingatan which he initiated in the year 2016-2017.

Sebagai seorang musisi belakangan Yennu Ariendra mengolah banyak hal dari tanah kelahirannya itu. Saya tak tahu sejak kapan persisnya ia mulai mengulik sejarah dan tradisi Banyuwangi. Pertemuan Teater Garasi—juga saya—dengan Banyuwangi sendiri terjadi sejak proses Waktu Batu di tahun 2002 saat kami berkunjung dan tinggal sementara waktu di Kemiren. Ada banyak hal yang tinggal dalam diri saya paska pertemuan dengan Gandrung Temu, salah seorang maestro Gandrung Banyuwangi. Sejauh pengetahuan saya sebagai sesama seniman mukim Teater Garasi Yennu mulai mengulik jauh tradisi Banyuwangi semenjak proses Yang Fana adalah Waktu. Kita Abadi. (2015) Waktu itu ia menggali sejarah kekerasan berdasar cerita keluarganya. Ia juga melacaknya melalui lagu-lagu gandrung dan kendang kempul. Temuan-temuan itu kemudian diolahnya lebih jauh dan lebih tajam lagi dalam proses Teater-Musik Menara Ingatan yang diinisiasinya di tahun 2016-2017.

In Menara Ingatan, Yennu borrowed the structure of Gandrung performance to talk about the history of violence in Banyuwangi, since Majapahit until today. It seems like, Yennu doesn’t want to stop there. Yennu is coming back this time with Mo’ong, exploring more about Banyuwangi and make an album called Raja Kirik. Different from Menara Ingatan that still carrying burden to introduce Banyuwangi and its long history, Raja Kirik only stands on Jaranan Buto performance and Menak Jingga character. The compositions of Menara Ingatan explained a long history which shorten in the dramatics structure of Gandrung Banyuwangi, while Raja Kirik is a monologue without Menak Jingga in the sense of Jaranan Buto.  

Dalam Menara Ingatan Yennu meminjam struktur pertunjukan gandrung untuk membicarakan sejarah kekerasan di Banyuwangi dari jaman Majapahit hingga hari ini. Dan tampaknya Yennu tak mau berhenti di sana. Dengan menggandeng Mo’ong Yennu kembali menilik Banyuwangi dan menggarap album musik Raja Kirik. Berbeda dengan Menara Ingatan yang tampak masih memiliki beban untuk mengenalkan Banyuwangi dan sejarah panjangnya, Raja Kirik hanya berpijak pada pertunjukan Jaranan Buto dan sosok Menak Jingga. Komposisi-komposisi musik yang dihasilkan dalam Menara Ingatan memapar sebuah perjalanan yang panjang yang dimampatkan dalam struktur dramatika Gandrung Banyuwangi, sedangkan Raja Kirik adalah monolog tanpa kata Menak Jingga dalam balutan Jaranan Buto.

Jaranan Buto is a variant of kuda lumping (horse troopers dance) which exist in many places in Java. What makes it different, the head of horses in Jaranan Buto is the head of giant (Buto). Kuda Lumping in Central Java and East Java still hold out the form of horse with addition of boar in some places. The image of Buto only appear in Barongan part, which is not exist in the main plot. While the whole Jaranan Buto dancers as well as the buto horses they ride, also wearing costume and makeup like buto. In a glance, you could say Jaranan Buto is a mix of Barong Bali, Jaranan Senterewe, and Reog Ponorogo with bigger moves, more power and more anger. (For me) it is not really clear when the dancer started to get trance, because the music already played hard and fast from the beginning, also the moves of the dancer already ferocious since they stepped in to the arena.

Jaranan Buto adalah varian tari kuda lumping yang tumbuh di banyak tempat di Jawa. Tapi yang berbeda—dan tidak ditemui di daerah lain—kepala kuda lumping di Jaranan Buto adalah kepala raksasa. Kuda lumping di Jawa tengah dan Jawa Timur tetap bertahan dalam bentuk yang ditirunya yakni kuda, dengan tambahan celeng di beberapa tempat. Imaji Buto hanya muncul dalam barongan atau caplokan saja, bukan pada kuda lumping yang jadi piranti pertunjukan utama. Seluruh penari Jaranan Buto sebagaimana buto yang ditungganginya juga berpakaian dan berwajah layaknya raksasa. Sekilas Jaranan Buto adalah gabungan dari Barong Bali, Jaranan Senterewe dan Reog Ponorogo dengan gerak yang lebih besar, bertenaga dan marah. (Bagi saya) tak terlalu jelas kapan seorang penari masih sadar atau trance karena sejak awal musik telah ditabuh dengan keras dan cepat, juga gerak para penari yang sudah berangasan bahkan sejak masuk arena.

Developed since 1963, created by Setro Asnawi, a Jaranan Senterewe artist, Jaranan Buto still has it’s place in the community until this day. Different from Kuda Lumping which story usually rooted from the story of Panji, Jaranan Buto step on the story of Menak Jingga. At first it was developed in Cemetuk Village, a small village habited by Mataram Java people that already live alongside Osing people, the indigenous people of Banyuwangi

Berkembang sejak tahun 1963-an, diciptakan oleh Setro Asnawi, seorang pendatang dari Trenggalek, Jaranan Buto hingga hari ini masih mendapatkan tempat di masyarakatnya. Berbeda dengan kuda lumping pada umumnya yang berakar pada cerita panji, Jaranan Buto berpijak pada kisah Menak Jinggo. Jaranan Buto semula berkembang di dusun Cemetuk, sebuah dusun yang banyak dihuni oleh orang Jawa Mataram yang sudah hidup berdampingan dengan masyrakat Osing, penduduk asli Banyuwangi. Bisa dikatakan Jaranan Buto adalah perpaduan Jatilan Mataram dengan tradisi Osing Banyuwangi.

 

Album: Raja Kirik

Album Musik Raja Kirik

 

Raja Kirik is a part of project Image of The Giant (War on Narrative). Continuing the major topics in Menara Ingatan about history of violence, Yennu Ariendra is doing a collaboration with J Mo’ong Santoso Pribadi, exploring Jaranan Buto and The story of Menak Jingga as the source. Besides, they also observing Gedruk Merapi (Klaten) and Jathilan from Bantul, Yogyakarta, and Purworejo.

Album Musik Raja Kirik adalah bagian dari proyek seni yang lebih luas yakni Image of the Giant (War on Narrative). Masih melanjutkan tema besar Menara Ingatan yakni sejarah kekerasan, Yennu Ariendra berkolaborasi dengan J “Mo’ong” Santoso Pribadi, mengolah Jaranan Buto dan kisah Menak Jinggo sebagai sumber penciptaan. Selain itu mereka juga mempelajari Gedruk Merapi (Klaten) dan Jatilan dari Bantul. Jogja dan Purworejo.

This album consisted of 6 compositions:  O Sing (The Nay Sayer), Alas Tyang Pinggir (The Outcast Forest), Buto Abang (Red Giant), Raja Kirik (Dog King), Bang Bang Wetan (Dawn), Jaran-Jaran Ucul (Running Horses). Eventhough starting from the same theme and tradition with Menara Ingatan, the music is quiet different. Mo’ong with his DIY instrument, also with different musical tradition from Yennu, makes Raja Kirik one step further than Menara Ingatan, or at least appear as a different version. Especially, Raja Kirik doesn’t use any lyrics, so it’s more free to enjoyed as music or sound. Without the need to highlight the history of violence in Banyuwangi with words, I immersed myself into the scene of violence – without the need to understand the history and tradition of Banyuwangi.

Album musik ini terdiri dari 6 komposisi yakni:  O Sing (The Nay Sayer), Alas Tyang Pinggir (The Outcast Forest), Buto Abang (Red Giant), Raja Kirik (Dog King), Bang Bang Wetan (Dawn), Jaran-Jaran Ucul (Running Horses). Meskipun berangkat dari tema dan tradisi yang sama dengan Menara Ingatan warna musik dalam Raja Kirik cukup berbeda. Kehadiran Mo’ong dengan alat-alat musik buatan sendiri, juga tradisi musik yang berbeda dengan Yennu, membuat Raja Kirik seperti melangkah lebih maju dari Menara Ingatan, atau setidaknya versi yang berbeda. Terlebih lagi Raja Kirik tak menggunakan lirik sehingga lebih bebas dinikmati sebagai musik atau bunyi. Tanpa harus menggarisbawahi sejarah kekerasan di Banyuwangi melalui syair, saya dibawa dalam suasana dan warna kekerasan yang tajam—tanpa harus mengerti sejarah dan tradisi Banyuwangi.

Open with O Sing, with title coming from play words of Osing, we will brought to the world of horse trooper dance (jaranan), army, and war. Sounds of metals dominating like a greeting for the troops that viciously enter the arena. If in the Jaranan there is  sabet (whip), where the dancers entering and dance energetically to introduce the basic character, that is what O Sing mean to be. The aggresivity of these Butos reveal in the next composition, Alas Tiyang Pinggir. I immediately imagine Alas Purwo, where the Blambangan army withstand from Mas Rangsang attack (later known as Sultan Agung). The next compositions bring us further to the universe of Jaranan Buto and Menak Jingga: dissappoinment, anger, and also loneliness. But don’t wish for monotonic jaranan rhytm to be appear in every composition. In the part that supposed to be the peak, where Jaranan Buto supposed to be in trance, rampage, and eat everything, Yennu and Mo’ong choose to go further to the Menak Jingga’s matter.

Dibuka dengan O Sing, judul yang dimainkan dari kata Osing, kita akan dibawa masuk perlahan ke dunia jaranan, dunia keprajuritan dan perang. Bunyi-bunyi besi mendominasi seperti mengantar para prajurit memasuki arena dengan gagah. Jika di dalam struktur pertunjukan jaranan ada sabet, di mana para penari masuk dan menari rampak yang berfungsi sebagai pengenalan karakter dasar, O Sing sepertinya dimaksudkan demikian pula. Keberingasan para buto itu baru muncul di komposisi selanjutnya, yakni Alas Tyang Pinggir. Saya segera membayangkan Alas Purwo, di mana para prajurit Blambangan bertahan dari serangan Mas Rangsang (kemudian dikenal dengan nama Sultan Agung saat naik tahta). Komposisi-komposisi berikutnya semakin membawa kita jauh memasuki jagad Buto dan Menak Jinggo: kekecewaan, kemarahan dan juga kesepiannya. Tapi jangan berharap tabuhan jaranan yang monoton dan ritmis ada di setiap komposisi. Di bagian yang semestinya menjadi puncak, di saat jaranan buto semestinya ndadi, mengamuk dan memakan segalanya, Yennu dan Mo’ong justru masuk jauh ke dalam sumber perkara Menak Jinggo.

Well, I don’t want to end my writing with a summary that could shallow the interpretation of Raja Kirik. For me, Raja Kirik could be anyone today. They who are eliminated, marginalized, and denied.

Baiklah, saya tak ingin menutup tulisan singkat ini dengan simpulan yang justru membuat tafsir atas Raja Kirik tercekik. Bagi saya Raja Kirik bisa menjadi siapa saja hari ini: mereka yang tersingkirkan, terpinggirkan dan selalu diingkari.

Yogyakarta, May 2018

Yogyakarta, Mei 2018

GUNAWAN MARYANTO

Writer is director, actor, and author. Resident artist of Garasi Theater/Garasi Performance Institute

Penulis adalah Sutradara, aktor dan penulis. Seniman Mukim Teater Garasi/Garasi Performance Institute

2018

IMAGE OF THE GIANT (2018-)

ONGOING PROJECT INFORMATION

PROJECT TITLE
IMAGE OF THE GIANT

PROJECT CATEGORY
Music, video art, video installation and performance

PROJECT ABSTRACT

Image of the Giant would be a new interpretation and an effort to give new position for some folk arts (traditional forms) that still actively practice in all over Java ethnic in Indonesia. In a broader sense, the project will be presenting as a portrait of resistance, in the middle of complex contestation of political identity, to the issue of displacement and disappearance. The story of this folk performers commonly refers to the intensified refugee problems all over the world today, where the act of leaving is being seen as a statement of disappearing, to reflect how the world more and more had given very little space to what we call as others. The complex relationship between the historical context, with the strong performative sense of their gestures and also my own reflection of disparition today are put as fundamental aspects of the project.

Read more “IMAGE OF THE GIANT (2018-)”

2017

MAS KUMAMBANG – a Short Performance (2017)

Mas Kumambang (Short Performance)
Live @ Gedung Societet, TBY, Yogyakarta, Indonesia
2017 – 12 – 01 . 20.00 WIBTeam :

Paksi Raras Alit (Performer/Singer), Sekar Sari (performer), Raphael Donny (Motion Director), Dhanank Pambayun (Digital Illustrator), Yennu Ariendra (Music Composer), Banjar Triandaru (Lighting Designer)

Read more “MAS KUMAMBANG – a Short Performance (2017)”

2017

UNBEARABLE SUN (2017)

”Unbearable Sun” (2017) Short Movie, A videographic imprint of a ritual performed by an anti-hero fictional character.

Fragments of dreams, memories and patterns’ negatives intertwine, showing a ‘way through’; exploring the (re-)experience of the personal as epic, within a context of no time no space reality.

Premiered at Hellas Berlin Filmbox – January 2018

Director, Script Writer and Performer : Vassia Valkanioti

Video Editor and Music Composer : Yennu Ariendra

Director of Photography and Costum : Asa Rahmana

Camera and Technical Consultant : Antonius Hari Ispratowo

Production Assistant : Andi Meinl

2017

MENARA INGATAN (2016-2017)

MENARA INGATAN IN 2017

MENARA INGATAN (Minaret of Memory) is performance and music composition work of Yennu Ariendra, produced by Teater Garasi / Garasi Performance Institute. This piece is departed from history and memory of Indonesia from the local point of view of “Gandrung” History in Banyuwangi, a folk art/performance from East Java. The seed of this project actually began in 2008, that involved many inter-disciplinary artists from Gandrung traditional musician, digital musician, theater and also visual artist. To enhance the dialog to the public, in May 2017, we make a performance, in Jakarta.

Proyek MENARA INGATAN adalah sebuah karya komposisi dan pertunjukan musik kontemporer oleh Yennu Ariendra yang diproduksi Teater Garasi. Karya ini adalah pengolahan lanjutan dari pertunjukan yang dipentaskan pertama kali di pada bulan April, tahun 2016. Karya ini berangkat dari sejarah dan ingatan atas Indonesia yang dilihat dari sudut pandang sejarah lokal Gandrung Banyuwangi, suatu bentuk pertunjukan lokal di timur pulau Jawa. Proyek ini telah berlangsung sejak 2008, melibatkan berbagai seniman lintas disiplin dari khasanah musik Gandrung, musik digital, teater, hingga seni rupa kontemporer. Untuk meluaskan apresiasi dan dialog dengan publik, pertunjukan ini akan kembali dipentaskan pada bulan Mei tahun 2017, di Gedung Kesenian Jakarta.

///

The performance is tends to develop and explore the music and the old verses of “Gandrung”, a way to reveal the memories of social conflicts that happen in public space and point of views making in one episode of the history. The war in Blambangan Kingdom (17th-18th Century) became a metaphor and allegory from social conflict that happening in many area of the world today, along with the meeting between various subjects, local politic conflict, colonialism in the wave of globalisation of geopolitic.

Pertunjukan tersebut adalah merupakan pengembangan dan jelajah lebih jauh yang berupaya untuk mengolah lirik dan musik Gandrung, sebagai cara menyingkap ingatan atas tegangan-tegangan sosial yang berlangsung di ruang sosial dan pembentukan sudut pandang yang beragam atas suatu sumber episode sejarah. Perebutan kekuasaan di Kerajaan Blambangan pada abad 17-18 menjadi metafora dan alegori dari lanskap ketegangan sosial yang terus berlangsung di banyak tempat di dunia global hari ini, seturut dengan pertemuan subyek-subyek yang ragam, pertentangan politik lokal, kedatangan kekuatan kolonial dalam arus geopolitik globalisasi.

///

As a music performance, this project held in Yogyakarta, April, 2016, in Padepokan Seni Bagong Kussudiarja. This project develops the collaboration between old verse of Gandrung that sung by Pesinden (Javanese Traditional Singer) and Modern vocal in the composition that also to intertwine between digital and analog audio source.

Sebagai sebuah pertunjukan musik, pertama kali dipentaskan di Yogyakarta pada bulan April tahun 2016, di Padepokan Seni Bagong Kussudiarja Yogyakarta. Proyek ini terus memperdalam kolaborasi antara eksplorasi syair-syair Gandrung yang dilantunkan oleh pesinden dan vokalis musik klasik dalam komposisi yang menyilangkan pertemuan sumber bunyi digital dengan analog.

SINOPSIS

In the end of 18th, Blambangan Kingdom (The last Hindu Kingdom in Java) defeated by Mataram dan VOC (Dutch trading company). There was a massive war called “Puputan Bayu” that almost killed 70 percent of Blambangan population. The date on this war celebrated annually and became Banyuwangi city (Blambangan in modern day) anniversary. After the war, the remaining people of Blambangan had flee to the forests and mountains. The first major of Banyuwangi “Mas Alit” then create “Gandrung” troupe to travel in remote villages, forest and mountain in order to gather the outcast, the fugitive, the remaining people of Blambangan, to rebuild their own country. In that time the Gandrung verses tell the story about the great war in Bayu and the fighting spirit of Blambangan people in symbolic way.

Telah lama Mataram ingin menguasai Blambangan. Berbagai cara telah dilakukan. Baru di akhir abad 18 , dengan mengajak VOC, mereka ahkirnya dapat menaklukan Blambangan. Sebuah perang yang kemudian disebut sebagai Puputan Bayu, perang besar yang bahkan berhasil mengurangi jumlah populasi penduduk Blambangan hingga 70 persen. Tanggal dari perang tersebut, meski masih terus menjadi kontroversi, yang kemudian ijadikan sebagai hari lahir Kabupaten Banyuwangi (Blambangan di masa sekarang). Akibat dari Puputan Bayu tersebut, masyarakat Blambangan terpaksa terpencar dan mengungsi ke gunung dan hutan-hutan. Diinisiasi oleh bupati pertama Banyuwangi, Mas Alit, dibuatlah sebuah kelompok gandrung yang melakukan perjalanan ke desa-desa terpencil, hutan dan gunung. Semula ini adalah jalan demi mengumpulkan rakyat Blambangan yang tercerai-berai. Saat itu, gending-gending yang dinyanyikan di dalam Gandrung menggambarkan situasi setelah Perang Bayu dan etos perjuangan Rakyat Blambangan dalam bahasa yang simbolis.

 

Menara Ingatan (Minaret of Memory) Full Performance Documentation, Jakarta, 2017

 

 

MENARA INGATAN IN 2016

Menara Ingatan is a contemporary music performance, presenting Yennu Ariendra’s exploring mode in digital instruments, metal pieces sound and traditional music. The work departs from a form of Gandrung, traditional art from Banyuwangi – East Java, that developed subsequent to the fall of the Blambangan kingdom (old name for Banyuwangi). In a number of research, Gandrung’s lyrics tend to depict past violence of long wars and usurpation

re_dsc01273_2

The performance created, composed and performed by Yennu Ariendra in collaboration with Andi Meinl, Asa Rahmana, Erson Padapiran and Silir Pujiwati. Lyric taken from old “Gandrung” verse.



re_dsc01270

 

Gandrung’s Old Verses in Osing Language 

translated in Bahasa and English

 

PODHO NONTON

Padha nonton

Pudak sempal ring lelurung

Yo pendite

Pudak sempal lambeane para putra

Semua menyaksikan / Bunga Pudak patah di jalan-jalan / Ya, ikat pinggangnya / Bunga Pudak yang patah, ayunan tangan  para putra

Everybody watched / Broken “pudak” flowers on the streets / Yes, their belt / Broken “pudak” flowers, the swinging arm of the sons

Para putra

Kejala ring kedung liwung

Jalane jala sutro

Tampange tampang kencana

Para putra / Terjaring di lubuk yang airnya berputar / Jaringnya terbuat dari sutra / Pemberat jalanya terbuat dari emas

The sons / Netted in the depths of whirlpool / The net made from silk / It’s ballast made from gold

KEMBANG MENUR, KEMBANG GADUNG, KEMBANG ABANG  

Kembang menur

Melik-melik ring bebentur

Sun siram alum

Sun petik mencirat ring ati

Bunga Melati / Kelap-kelip di “benturan” (terbentur pagar/tembok rumah)  / Kusiram tetapi tetap layu / Kupetik, memercik di hati

Jasmine flower / Flickering at the fences/walls /  I’ve watered but it still wither /  I pick…splattering through my heart

Lare angon

Paculana gumuk iku

Tandurana kacang lanjaran

Sak unting kanggo perawan    

Wahai anak gembala / Cangkulah bukit itu / Tanamlah kacang panjang / Seuntai untuk anak perawan

O little shepherd / Plow that hill / Plant the yardlong beans / One strand for the virgin

Kembang gadung

Sak gulung ditawa sewu

Nora murah nora larang

Hang nawa wong adol kembang

Bunga Gadung / Satu gulung ditawar seribu / Tidak murah, (pun) tidak mahal / Penjual bunga telah menawarnya

Gadung flower / a bundle for a thousand / Not cheap nor expensive / The florist have made an offer

Wong adol kembang

Sun barisna ring temenggungan

Sun payungi payung agung

Lakonane membat mayun

Penjual bunga / Aku jajarkan di Temenggungan / Aku payungi Payung Agung / Hidupnya dipenuhi kenikmatan

The florist / I line them up in “Temenggungan” / I protect them with the grand umbrella /

/ their life is filled with pleasure

Kembang abang

Selebrang tiba ring kasur

Mbah teji balenana

Sun anteni ring paseban

Bunga merah / Menuju kenikmatan / Mbah Teji ulangi lagi / Aku tunggu di Paseban (tempat menghadap raja)

Red flower / Toward the pleasures / Grandfather Teji, do it again / I wait in the king hall

Ring paseban

Dung ki demang mangan nginum

Sleregan wong ngunus keris

Gendam gendis buyar abyur

Di paseban / Ki demang makan dan minum / Gemerincing senjata (keris) dihunus / Tidak perlu bermanis-manis lagi, lebih baik hancur  lebur

In the king hall / “Ki Demang” eat and drink / Clattering weapon unsheathed / no need to mince words, better we destroyed

SEBLANG

Seblang lokenta

Wis wayahe bang-bang wetan

Kakang-kakang ngelilira

Wis wayahe sawung kukuruyuk

“Seblang” (kesurupan / keadaaan lupa diri) “lokinto” (percakapan / urusan) / Langit di timur sudah merah membara / Kakak-kakak bangunlah / Sudah saatnya si (ayam) jantan berkokok

Seblang lokinto / The sky in the east already glowing in red / Wake up brothers / It is time the rooster crowing

Lawang gede wonten hang jagi

Medalo ring lawang butulan

Wis biasane ngemong adine

Sak tindak baliyo mulih

Pintu besar ada yang menjaga / Lewatlah pada pintu yang rapuh / Sebagaimana biasanya mengasuh adik / Sekali pergi kembalilah segera

The big gate has guardians /  Go through the fragile door / As you take care of your little brother / Once gone, back soon

Sekar-sekar jenang

Maondang dadari kuning

Temuruna ageng alit

Kaula nyuwun sepura

Bunga – Bunga Jenang (bubur) / Memancarkan cahaya kuning / Turunlah yang Besar dan yang Kecil / Hamba mohon maaf

Jenang flowers / Radiates yellow light / The Big and The Small, come down / I beg the pardon

Layar-layar kumendung

Umbak umbul ring segara

Segarane tuan agung

Tumenggung numpak kereta

Layar-layar kemendung (bersusun-susun seperti awan) / Ombak dan gelombang di lautan / Lautnya Tuan Agung / Tumenggung naik kereta

Sails shaped like clouds / Tides and waves in the ocean / The ocean belong to “Tuan Agung” / A lord rides carriage

Lilira kantun

Sang kantun lilira putra

Sapanen dayoh rika

Mbok srungkubo milu tama

Bangunlah wahai yang Tersisa / Wahai yang Tersisa, bangunlah pula putra (putra-putramu) / Tegur sapalah tamu anda / Perempuan yang berselimut (yang sakit) perlu diutamakan

Wake up, O The Remaining / The Remaining, wake your sons up / Greet your guests / Women who wear the blanket need to be prioritized

Lilira guling

Sabuk cinde ring gurise

Kakang-kakang ngelilira

Sawah benda ring selaka

Bangkitlah guling (istri / wanita) / Sabuk cindai (sutera) di “guris”nya (yang menjadi penanda batas (?)) / Kakak-kakak bangunlah / Sawah (ditumbuhi pohon besar) “bendo” di selaka

Wake up , the bolsters (the wives) / “Cindai” belt as a sign / The brothers, wake up / Our rice field has grown big trees in “Selaka”

Kembang pepe

Merambat ring kayu arum

Sang aruma membat mayun

Sang pepe ngajak lungo

Bunga pepe (yang terbakar terik matahari) / Merayap di kayu harum / Yang harum bergoyang-goyang (dipenuhi kenikmatan) / yang terbakar terik matahari mengajak pergi

Pepe (who burnt by the sun) flower / Grew in fragrant wood / The fragrant wiggling / Those who burnt by the sun ask to leave

Ngajak lungo

Mbok penganten kariyo dalu

Ngenjot-ngenjot lakune

Baliyo ngeluru lare

Mengajak pergi / Masa penganten jangan kelewat masak (berlama-lama) / cepat-cepatlah jalannya / kembalilah memungut anak

Ask to leave / Don’t dwell on your wedding party / Hurry to walk / Try to adopt a kid

Lare dakon

Turokno ring perahu

Lurubana bana cinde

Kang kumendung welangsani

Anak biji dakon / Tidurkan di perahu / Lumuri (dengan) kasih (agar menjadi) sutera / Yang berjajar-jajar (seperti awan) terlihat mengagumkan

“Dakon” pawn / put to bed on the boat / coat it with love in order to be silk / Lining in a row like a cloud, look great

2016

NOKAS (2016)

“Nokas Ending”

Director: MANUEL ALBERTO MAIA
Producer: SHALAHUDDIN SIREGAR
Cinematographer: MANUEL ALBERTO MAIA
Editor: SHALAHUDDIN SIREGAR
Cast: LAASAR TAKLALE, ERNA NORWACI TAKLALE-HANAS, ZELAITIAL NOKAS TAKLALE, ATALYA TAKLALE

https://www.facebook.com/filmnokas/

2016

Yang Fana Adalah Waktu. Kita Abadi / Time is…

Teater Garasi/Garasi Performance Institute “Yang Fana adalah Waktu. Kita Abadi/Time is Transient. We are Eternal”

Time is Transient. We are Eternal is Teater Garasi’s newest production, departs from the investigation and reflection of ‘order’ and ‘disorder’.

The production, directed by Yudi Ahmad Tajudin, is a further exploration of Teater Garasi’s collective art projects since 2008 that include Je.ja.l.an (The Streets) and Tubuh Ketiga (Third Body), which are an attempt to investigate how the explosion of voices and narratives (ideology, religion, and identity) in post-1998 Indonesia has created and unveiled tension and violence—both new and latent.
This is a cacophonic tour to the street level of the 21st century Indonesia. The chaos of the politics at the higher places –the global war, economic inequalities, state politics, religious tensions– populates the everyday as competing noises and contesting narratives, while traumatic historical violence continue to haunt in the background. And we dance while we are in the cacophony.