ALBUM: RAJA KIRIK (DOG KING) 2018

INFO & FREE DOWNLOAD   ///   VIDEO   ///   SPOTIFY   ///   IMAGE OF THE GIANT

 

 

Part of Image of the Giant, “Raja kirik” inspired by “Jaranan Buto” performance in Banyuwangi. An in-trance journey that captures the character of folk art as a symbol that represents long resistance of the outcast. A war of narration

Release Date : June 8, 2018

Yennu Ariendra : Electronic, J Moong Santoso Pribadi : DIY/Hand Made Instrument

Produced by Image Of The Giant Project, Recorded in Rumah Mo’ong. Mixing & Mastering by Yennu Ariendra

Cover drawing taken from “Letter of Damarwulan” (World Digital Library_MSS.Jav.89), cover design by Wok The Rock

Released by Yes No Wave Music

Track:

01. O Sing (The Nay Sayer)

02. Alas Tyang Pinggir (The Outcast Forest)

03. Buto Abang (Red Giant)

04. Raja Kirik (Dog King)

05. Bang Bang Wetan (Dawn)

06. Jaran Jaran Ucul (Running Horses)

All music and artworks using Creative Common License

 

RAJA KIRIK PERFORMANCES

 

RAJA KIRIK VIDEOS

 

Raja Kirik from Banyuwangi

Raja Kirik dari Banyuwangi

Gunawan Maryanto

 

 

I want to start writing with a short story because I’m an author – not a musician nor music critics.

Saya ingin mengawali tulisan ini dengan sebuah cerita singkat sebab saya seorang pencerita—bukan pemusik bukan pula pengamat musik.

There was Jaka Umbaran. Obviously, it’s not a real name. Jaka means unmarried young man, while Umbaran means wandering around at will. Jaka Umbaran is a nickname for a young man who still wanted more experience. In his odissey he met Kebo Marcuet, the ruler of Blambangan. The unbeatable knight with two horns on his head who went on a rampage to collect from Majapahit the promised reward for his merit. Nobody in Majapahit could defeat him. Kebo Marcuet is also a nicknames, a humiliating one. Kebo is buffalo, to describe him who went on a rampage like a stupid buffalo. While Marcuet means dissappointed. The threathened Queen Kencana Wungu of Majapahit then held a contest: whoever could defeat Kebo Marcuet will become her husband and the regent of Blambangan. So Jaka Umbaran took the opportunity to challenge Kebo Marcuet. They fight for days until in one hoodoo days Kebo Marcuet got slain. His body was drowned in Brantas river. Jaka Umbaran win eventhough his face and body was damaged. Later, he became the Regent of Blambangan, known as Menak Jingga – The Red Faced King. As happened to Kebo Marcuet, Menak Jingga also feel dissappointed because Kencana Wungu broke one of her promise. She didn’t want to be married by Menak Jingga whose body now ugly and defective like a dog. Menak Jingga went on a rampage. And the story recur: Kencana Wungu held the same contest once again.

Adalah Jaka Umbaran. Jelas ini bukan nama asli. Jaka berarti pemuda lajang sedang Umbaran adalah berkelana sekehendak hati. Jaka Umbaran adalah sebutan untuk seorang pemuda yang masih mentah dan kepingin matang dengan cara mengembara menantang kehidupan. Dalam pengembaraannya ia berjumpa dengan Kebo Marcuet, penguasa Blambangan, seorang pendekar pilih tanding dengan dua tanduk di kepalanya yang tengah mengamuk untuk mendapatkan hadiah yang dijanjikan karena jasa-jasanya bagi Majapahit. Tak seorang pun di Majapahit yang sanggup mengalahkannya. Kebo Marcuet juga hanya nama paraban, jejuluk untuk merendahkannya. Kebo adalah kerbau untuk menggambarkan dirinya yang mengamuk bagai kerbau dungu, sedangkan Marcuet berarti kecewa. Merasa dirinya terancam Sang Ratu Kencana Wungu mengadakan sayembara: barang siapa bisa mengalahkan Kebo Marcuet maka ia akan menjadi suaminya dan Adipati Blambangan. Jaka Umbaran pun menantang Kebo Marcuet. Berhari-hari mereka bertarung hingga di sebuah hari yang naas Kebo Marcuet tewas. Tubuhnya tenggelam di Kali Brantas. Jaka Umbaran menang meski wajah dan tubuhnya hancur lebur. Jaka Umbaran lantas menjadi Adipati Blambangan dengan gelar Menak Jingga—Raja berwajah merah. Tapi sebagaimana Kebo Marcuet, Menak Jingga juga meradang kecewa sebab Kencana Wungu mengingkari janjinya. Ia tak mau diperistri Menak Jingga yang wajah dan tubuhnya telah berubah menjadi cacat tak ubahnya seekor anjing. Menak Jingga mengamuk dan tak seorang pun di Majapahit sanggup menghadapinya. Dan cerita berulang: Kencana Wungu membuka kembali sayembara yang sama.

This story comes from my childhood memory when I was regularly watching Ketoprak performance (Javanese traditional theater play). Eventhough he’s a villain character, I was secretly admiring Menak Jingga. He’s my childhood hero, someone who fight for his pride and his rights eventhough at the end of the story he was tragically defeated. Later I realize that the story was made up by Mataram to destroy the image of Blambangan people – the place we know as Banyuwangi nowaday. Blambangan were Kebo Mercuet and Menak Jingga. Blambangan was a greedy dog who never feel enough. Blambangan is a bunch of wizardry people having no fear. What truly happened was the opposite. Blambangan is an area that always been contested. Majapahit competed with Bali to occupy the peninsula. Mataram and VOC also insisted to own it. But Blambangan survived from time to time. Eventhough later it was destroyed as well as Menak Jingga.

Cerita di atas saya ambil dari ingatan yang lamat-lamat dari masa kecil saat saya masih rajin menonton pertunjukan ketoprak. Meski merupakan tokoh antagonis diam-diam saya mengagumi Menak Jingga. Ia adalah pahlawan kecil saya, seseorang yang berusaha menegakkan dirinya dan menagih sesuatu yang telah dijanjikan meski pada akhir cerita mesti kalah dengan tragis. Belakangan saya tahu bahwa cerita tersebut adalah sebuah cerita rekaan Mataram untuk menghancurkan imaji orang-orang Blambangan—Banyuwangi sekarang. Blambangan adalah Kebo Marcuet dan Menak Jingga, si pungguk yang merindukan bulan. Blambangan adalah anjing rakus dan tak pernah berpuas diri. Blambangan adalah sekumpulan orang sakti yang tak punya rasa takut. Padahal yang berlangsung adalah sebaliknya. Blambangan adalah wilayah yang selalu diperebutkan. Wilayah yang berkali-kali hendak ditaklukkan. Majapahit bersaing dengan Bali untuk menguasai tanah semenanjung itu. Mataram dan VOC juga berkeras menginginkannya. Tapi Blambangan dari waktu ke waktu terus bertahan. Meski harus hancur lebur sebagaimana Menak Jingga.

Currently, as a musician Yennu Ariendra doing much works that related to his hometown, Banyuwangi. I don’t know exactly since when he started to explore history and tradition of Banyuwangi. The encounter of Garasi Theater and Banyuwangi (including me) happened since the process of Waktu Batu in 2002 when we visited Kemiren Village. As far as I know, as fellow resident artist of Garasi Theater, Yennu started to explore Banyuwangi intensely since the process of Yang Fana adalah Waktu. Kita Abadi (2015). In that time, he started to research the history of violence based on his family story. He also tried to trace it through the Gandrung songs and Kendang Kempul. His findings was getting more deep and intense in the process of  Teater-Musik Menara Ingatan which he initiated in the year 2016-2017.

Sebagai seorang musisi belakangan Yennu Ariendra mengolah banyak hal dari tanah kelahirannya itu. Saya tak tahu sejak kapan persisnya ia mulai mengulik sejarah dan tradisi Banyuwangi. Pertemuan Teater Garasi—juga saya—dengan Banyuwangi sendiri terjadi sejak proses Waktu Batu di tahun 2002 saat kami berkunjung dan tinggal sementara waktu di Kemiren. Ada banyak hal yang tinggal dalam diri saya paska pertemuan dengan Gandrung Temu, salah seorang maestro Gandrung Banyuwangi. Sejauh pengetahuan saya sebagai sesama seniman mukim Teater Garasi Yennu mulai mengulik jauh tradisi Banyuwangi semenjak proses Yang Fana adalah Waktu. Kita Abadi. (2015) Waktu itu ia menggali sejarah kekerasan berdasar cerita keluarganya. Ia juga melacaknya melalui lagu-lagu gandrung dan kendang kempul. Temuan-temuan itu kemudian diolahnya lebih jauh dan lebih tajam lagi dalam proses Teater-Musik Menara Ingatan yang diinisiasinya di tahun 2016-2017.

In Menara Ingatan, Yennu borrowed the structure of Gandrung performance to talk about the history of violence in Banyuwangi, since Majapahit until today. It seems like, Yennu doesn’t want to stop there. Yennu is coming back this time with Mo’ong, exploring more about Banyuwangi and make an album called Raja Kirik. Different from Menara Ingatan that still carrying burden to introduce Banyuwangi and its long history, Raja Kirik only stands on Jaranan Buto performance and Menak Jingga character. The compositions of Menara Ingatan explained a long history which shorten in the dramatics structure of Gandrung Banyuwangi, while Raja Kirik is a monologue without Menak Jingga in the sense of Jaranan Buto.  

Dalam Menara Ingatan Yennu meminjam struktur pertunjukan gandrung untuk membicarakan sejarah kekerasan di Banyuwangi dari jaman Majapahit hingga hari ini. Dan tampaknya Yennu tak mau berhenti di sana. Dengan menggandeng Mo’ong Yennu kembali menilik Banyuwangi dan menggarap album musik Raja Kirik. Berbeda dengan Menara Ingatan yang tampak masih memiliki beban untuk mengenalkan Banyuwangi dan sejarah panjangnya, Raja Kirik hanya berpijak pada pertunjukan Jaranan Buto dan sosok Menak Jingga. Komposisi-komposisi musik yang dihasilkan dalam Menara Ingatan memapar sebuah perjalanan yang panjang yang dimampatkan dalam struktur dramatika Gandrung Banyuwangi, sedangkan Raja Kirik adalah monolog tanpa kata Menak Jingga dalam balutan Jaranan Buto.

Jaranan Buto is a variant of kuda lumping (horse troopers dance) which exist in many places in Java. What makes it different, the head of horses in Jaranan Buto is the head of giant (Buto). Kuda Lumping in Central Java and East Java still hold out the form of horse with addition of boar in some places. The image of Buto only appear in Barongan part, which is not exist in the main plot. While the whole Jaranan Buto dancers as well as the buto horses they ride, also wearing costume and makeup like buto. In a glance, you could say Jaranan Buto is a mix of Barong Bali, Jaranan Senterewe, and Reog Ponorogo with bigger moves, more power and more anger. (For me) it is not really clear when the dancer started to get trance, because the music already played hard and fast from the beginning, also the moves of the dancer already ferocious since they stepped in to the arena.

Jaranan Buto adalah varian tari kuda lumping yang tumbuh di banyak tempat di Jawa. Tapi yang berbeda—dan tidak ditemui di daerah lain—kepala kuda lumping di Jaranan Buto adalah kepala raksasa. Kuda lumping di Jawa tengah dan Jawa Timur tetap bertahan dalam bentuk yang ditirunya yakni kuda, dengan tambahan celeng di beberapa tempat. Imaji Buto hanya muncul dalam barongan atau caplokan saja, bukan pada kuda lumping yang jadi piranti pertunjukan utama. Seluruh penari Jaranan Buto sebagaimana buto yang ditungganginya juga berpakaian dan berwajah layaknya raksasa. Sekilas Jaranan Buto adalah gabungan dari Barong Bali, Jaranan Senterewe dan Reog Ponorogo dengan gerak yang lebih besar, bertenaga dan marah. (Bagi saya) tak terlalu jelas kapan seorang penari masih sadar atau trance karena sejak awal musik telah ditabuh dengan keras dan cepat, juga gerak para penari yang sudah berangasan bahkan sejak masuk arena.

Developed since 1963, created by Setro Asnawi, a Jaranan Senterewe artist, Jaranan Buto still has it’s place in the community until this day. Different from Kuda Lumping which story usually rooted from the story of Panji, Jaranan Buto step on the story of Menak Jingga. At first it was developed in Cemetuk Village, a small village habited by Mataram Java people that already live alongside Osing people, the indigenous people of Banyuwangi

Berkembang sejak tahun 1963-an, diciptakan oleh Setro Asnawi, seorang pendatang dari Trenggalek, Jaranan Buto hingga hari ini masih mendapatkan tempat di masyarakatnya. Berbeda dengan kuda lumping pada umumnya yang berakar pada cerita panji, Jaranan Buto berpijak pada kisah Menak Jinggo. Jaranan Buto semula berkembang di dusun Cemetuk, sebuah dusun yang banyak dihuni oleh orang Jawa Mataram yang sudah hidup berdampingan dengan masyrakat Osing, penduduk asli Banyuwangi. Bisa dikatakan Jaranan Buto adalah perpaduan Jatilan Mataram dengan tradisi Osing Banyuwangi.

 

Album: Raja Kirik

Album Musik Raja Kirik

 

Raja Kirik is a part of project Image of The Giant (War on Narrative). Continuing the major topics in Menara Ingatan about history of violence, Yennu Ariendra is doing a collaboration with J Mo’ong Santoso Pribadi, exploring Jaranan Buto and The story of Menak Jingga as the source. Besides, they also observing Gedruk Merapi (Klaten) and Jathilan from Bantul, Yogyakarta, and Purworejo.

Album Musik Raja Kirik adalah bagian dari proyek seni yang lebih luas yakni Image of the Giant (War on Narrative). Masih melanjutkan tema besar Menara Ingatan yakni sejarah kekerasan, Yennu Ariendra berkolaborasi dengan J “Mo’ong” Santoso Pribadi, mengolah Jaranan Buto dan kisah Menak Jinggo sebagai sumber penciptaan. Selain itu mereka juga mempelajari Gedruk Merapi (Klaten) dan Jatilan dari Bantul. Jogja dan Purworejo.

This album consisted of 6 compositions:  O Sing (The Nay Sayer), Alas Tyang Pinggir (The Outcast Forest), Buto Abang (Red Giant), Raja Kirik (Dog King), Bang Bang Wetan (Dawn), Jaran-Jaran Ucul (Running Horses). Eventhough starting from the same theme and tradition with Menara Ingatan, the music is quiet different. Mo’ong with his DIY instrument, also with different musical tradition from Yennu, makes Raja Kirik one step further than Menara Ingatan, or at least appear as a different version. Especially, Raja Kirik doesn’t use any lyrics, so it’s more free to enjoyed as music or sound. Without the need to highlight the history of violence in Banyuwangi with words, I immersed myself into the scene of violence – without the need to understand the history and tradition of Banyuwangi.

Album musik ini terdiri dari 6 komposisi yakni:  O Sing (The Nay Sayer), Alas Tyang Pinggir (The Outcast Forest), Buto Abang (Red Giant), Raja Kirik (Dog King), Bang Bang Wetan (Dawn), Jaran-Jaran Ucul (Running Horses). Meskipun berangkat dari tema dan tradisi yang sama dengan Menara Ingatan warna musik dalam Raja Kirik cukup berbeda. Kehadiran Mo’ong dengan alat-alat musik buatan sendiri, juga tradisi musik yang berbeda dengan Yennu, membuat Raja Kirik seperti melangkah lebih maju dari Menara Ingatan, atau setidaknya versi yang berbeda. Terlebih lagi Raja Kirik tak menggunakan lirik sehingga lebih bebas dinikmati sebagai musik atau bunyi. Tanpa harus menggarisbawahi sejarah kekerasan di Banyuwangi melalui syair, saya dibawa dalam suasana dan warna kekerasan yang tajam—tanpa harus mengerti sejarah dan tradisi Banyuwangi.

Open with O Sing, with title coming from play words of Osing, we will brought to the world of horse trooper dance (jaranan), army, and war. Sounds of metals dominating like a greeting for the troops that viciously enter the arena. If in the Jaranan there is  sabet (whip), where the dancers entering and dance energetically to introduce the basic character, that is what O Sing mean to be. The aggresivity of these Butos reveal in the next composition, Alas Tiyang Pinggir. I immediately imagine Alas Purwo, where the Blambangan army withstand from Mas Rangsang attack (later known as Sultan Agung). The next compositions bring us further to the universe of Jaranan Buto and Menak Jingga: dissappoinment, anger, and also loneliness. But don’t wish for monotonic jaranan rhytm to be appear in every composition. In the part that supposed to be the peak, where Jaranan Buto supposed to be in trance, rampage, and eat everything, Yennu and Mo’ong choose to go further to the Menak Jingga’s matter.

Dibuka dengan O Sing, judul yang dimainkan dari kata Osing, kita akan dibawa masuk perlahan ke dunia jaranan, dunia keprajuritan dan perang. Bunyi-bunyi besi mendominasi seperti mengantar para prajurit memasuki arena dengan gagah. Jika di dalam struktur pertunjukan jaranan ada sabet, di mana para penari masuk dan menari rampak yang berfungsi sebagai pengenalan karakter dasar, O Sing sepertinya dimaksudkan demikian pula. Keberingasan para buto itu baru muncul di komposisi selanjutnya, yakni Alas Tyang Pinggir. Saya segera membayangkan Alas Purwo, di mana para prajurit Blambangan bertahan dari serangan Mas Rangsang (kemudian dikenal dengan nama Sultan Agung saat naik tahta). Komposisi-komposisi berikutnya semakin membawa kita jauh memasuki jagad Buto dan Menak Jinggo: kekecewaan, kemarahan dan juga kesepiannya. Tapi jangan berharap tabuhan jaranan yang monoton dan ritmis ada di setiap komposisi. Di bagian yang semestinya menjadi puncak, di saat jaranan buto semestinya ndadi, mengamuk dan memakan segalanya, Yennu dan Mo’ong justru masuk jauh ke dalam sumber perkara Menak Jinggo.

Well, I don’t want to end my writing with a summary that could shallow the interpretation of Raja Kirik. For me, Raja Kirik could be anyone today. They who are eliminated, marginalized, and denied.

Baiklah, saya tak ingin menutup tulisan singkat ini dengan simpulan yang justru membuat tafsir atas Raja Kirik tercekik. Bagi saya Raja Kirik bisa menjadi siapa saja hari ini: mereka yang tersingkirkan, terpinggirkan dan selalu diingkari.

Yogyakarta, May 2018

Yogyakarta, Mei 2018

GUNAWAN MARYANTO

Writer is director, actor, and author. Resident artist of Garasi Theater/Garasi Performance Institute

Penulis adalah Sutradara, aktor dan penulis. Seniman Mukim Teater Garasi/Garasi Performance Institute