MENARA INGATAN (2016-2017)

MENARA INGATAN IN 2017

MENARA INGATAN (Minaret of Memory) is performance and music composition work of Yennu Ariendra, produced by Teater Garasi / Garasi Performance Institute. This piece is departed from history and memory of Indonesia from the local point of view of “Gandrung” History in Banyuwangi, a folk art/performance from East Java. The seed of this project actually began in 2008, that involved many inter-disciplinary artists from Gandrung traditional musician, digital musician, theater and also visual artist. To enhance the dialog to the public, in May 2017, we make a performance, in Jakarta.

Proyek MENARA INGATAN adalah sebuah karya komposisi dan pertunjukan musik kontemporer oleh Yennu Ariendra yang diproduksi Teater Garasi. Karya ini adalah pengolahan lanjutan dari pertunjukan yang dipentaskan pertama kali di pada bulan April, tahun 2016. Karya ini berangkat dari sejarah dan ingatan atas Indonesia yang dilihat dari sudut pandang sejarah lokal Gandrung Banyuwangi, suatu bentuk pertunjukan lokal di timur pulau Jawa. Proyek ini telah berlangsung sejak 2008, melibatkan berbagai seniman lintas disiplin dari khasanah musik Gandrung, musik digital, teater, hingga seni rupa kontemporer. Untuk meluaskan apresiasi dan dialog dengan publik, pertunjukan ini akan kembali dipentaskan pada bulan Mei tahun 2017, di Gedung Kesenian Jakarta.

///

The performance is tends to develop and explore the music and the old verses of “Gandrung”, a way to reveal the memories of social conflicts that happen in public space and point of views making in one episode of the history. The war in Blambangan Kingdom (17th-18th Century) became a metaphor and allegory from social conflict that happening in many area of the world today, along with the meeting between various subjects, local politic conflict, colonialism in the wave of globalisation of geopolitic.

Pertunjukan tersebut adalah merupakan pengembangan dan jelajah lebih jauh yang berupaya untuk mengolah lirik dan musik Gandrung, sebagai cara menyingkap ingatan atas tegangan-tegangan sosial yang berlangsung di ruang sosial dan pembentukan sudut pandang yang beragam atas suatu sumber episode sejarah. Perebutan kekuasaan di Kerajaan Blambangan pada abad 17-18 menjadi metafora dan alegori dari lanskap ketegangan sosial yang terus berlangsung di banyak tempat di dunia global hari ini, seturut dengan pertemuan subyek-subyek yang ragam, pertentangan politik lokal, kedatangan kekuatan kolonial dalam arus geopolitik globalisasi.

///

As a music performance, this project held in Yogyakarta, April, 2016, in Padepokan Seni Bagong Kussudiarja. This project develops the collaboration between old verse of Gandrung that sung by Pesinden (Javanese Traditional Singer) and Modern vocal in the composition that also to intertwine between digital and analog audio source.

Sebagai sebuah pertunjukan musik, pertama kali dipentaskan di Yogyakarta pada bulan April tahun 2016, di Padepokan Seni Bagong Kussudiarja Yogyakarta. Proyek ini terus memperdalam kolaborasi antara eksplorasi syair-syair Gandrung yang dilantunkan oleh pesinden dan vokalis musik klasik dalam komposisi yang menyilangkan pertemuan sumber bunyi digital dengan analog.

SINOPSIS

In the end of 18th, Blambangan Kingdom (The last Hindu Kingdom in Java) defeated by Mataram dan VOC (Dutch trading company). There was a massive war called “Puputan Bayu” that almost killed 70 percent of Blambangan population. The date on this war celebrated annually and became Banyuwangi city (Blambangan in modern day) anniversary. After the war, the remaining people of Blambangan had flee to the forests and mountains. The first major of Banyuwangi “Mas Alit” then create “Gandrung” troupe to travel in remote villages, forest and mountain in order to gather the outcast, the fugitive, the remaining people of Blambangan, to rebuild their own country. In that time the Gandrung verses tell the story about the great war in Bayu and the fighting spirit of Blambangan people in symbolic way.

Telah lama Mataram ingin menguasai Blambangan. Berbagai cara telah dilakukan. Baru di akhir abad 18 , dengan mengajak VOC, mereka ahkirnya dapat menaklukan Blambangan. Sebuah perang yang kemudian disebut sebagai Puputan Bayu, perang besar yang bahkan berhasil mengurangi jumlah populasi penduduk Blambangan hingga 70 persen. Tanggal dari perang tersebut, meski masih terus menjadi kontroversi, yang kemudian ijadikan sebagai hari lahir Kabupaten Banyuwangi (Blambangan di masa sekarang). Akibat dari Puputan Bayu tersebut, masyarakat Blambangan terpaksa terpencar dan mengungsi ke gunung dan hutan-hutan. Diinisiasi oleh bupati pertama Banyuwangi, Mas Alit, dibuatlah sebuah kelompok gandrung yang melakukan perjalanan ke desa-desa terpencil, hutan dan gunung. Semula ini adalah jalan demi mengumpulkan rakyat Blambangan yang tercerai-berai. Saat itu, gending-gending yang dinyanyikan di dalam Gandrung menggambarkan situasi setelah Perang Bayu dan etos perjuangan Rakyat Blambangan dalam bahasa yang simbolis.

 

Menara Ingatan (Minaret of Memory) Full Performance Documentation, Jakarta, 2017

 

 

MENARA INGATAN IN 2016

Menara Ingatan is a contemporary music performance, presenting Yennu Ariendra’s exploring mode in digital instruments, metal pieces sound and traditional music. The work departs from a form of Gandrung, traditional art from Banyuwangi – East Java, that developed subsequent to the fall of the Blambangan kingdom (old name for Banyuwangi). In a number of research, Gandrung’s lyrics tend to depict past violence of long wars and usurpation

re_dsc01273_2

The performance created, composed and performed by Yennu Ariendra in collaboration with Andi Meinl, Asa Rahmana, Erson Padapiran and Silir Pujiwati. Lyric taken from old “Gandrung” verse.



re_dsc01270

 

Gandrung’s Old Verses in Osing Language 

translated in Bahasa and English

 

PODHO NONTON

Padha nonton

Pudak sempal ring lelurung

Yo pendite

Pudak sempal lambeane para putra

Semua menyaksikan / Bunga Pudak patah di jalan-jalan / Ya, ikat pinggangnya / Bunga Pudak yang patah, ayunan tangan  para putra

Everybody watched / Broken “pudak” flowers on the streets / Yes, their belt / Broken “pudak” flowers, the swinging arm of the sons

Para putra

Kejala ring kedung liwung

Jalane jala sutro

Tampange tampang kencana

Para putra / Terjaring di lubuk yang airnya berputar / Jaringnya terbuat dari sutra / Pemberat jalanya terbuat dari emas

The sons / Netted in the depths of whirlpool / The net made from silk / It’s ballast made from gold

KEMBANG MENUR, KEMBANG GADUNG, KEMBANG ABANG  

Kembang menur

Melik-melik ring bebentur

Sun siram alum

Sun petik mencirat ring ati

Bunga Melati / Kelap-kelip di “benturan” (terbentur pagar/tembok rumah)  / Kusiram tetapi tetap layu / Kupetik, memercik di hati

Jasmine flower / Flickering at the fences/walls /  I’ve watered but it still wither /  I pick…splattering through my heart

Lare angon

Paculana gumuk iku

Tandurana kacang lanjaran

Sak unting kanggo perawan    

Wahai anak gembala / Cangkulah bukit itu / Tanamlah kacang panjang / Seuntai untuk anak perawan

O little shepherd / Plow that hill / Plant the yardlong beans / One strand for the virgin

Kembang gadung

Sak gulung ditawa sewu

Nora murah nora larang

Hang nawa wong adol kembang

Bunga Gadung / Satu gulung ditawar seribu / Tidak murah, (pun) tidak mahal / Penjual bunga telah menawarnya

Gadung flower / a bundle for a thousand / Not cheap nor expensive / The florist have made an offer

Wong adol kembang

Sun barisna ring temenggungan

Sun payungi payung agung

Lakonane membat mayun

Penjual bunga / Aku jajarkan di Temenggungan / Aku payungi Payung Agung / Hidupnya dipenuhi kenikmatan

The florist / I line them up in “Temenggungan” / I protect them with the grand umbrella /

/ their life is filled with pleasure

Kembang abang

Selebrang tiba ring kasur

Mbah teji balenana

Sun anteni ring paseban

Bunga merah / Menuju kenikmatan / Mbah Teji ulangi lagi / Aku tunggu di Paseban (tempat menghadap raja)

Red flower / Toward the pleasures / Grandfather Teji, do it again / I wait in the king hall

Ring paseban

Dung ki demang mangan nginum

Sleregan wong ngunus keris

Gendam gendis buyar abyur

Di paseban / Ki demang makan dan minum / Gemerincing senjata (keris) dihunus / Tidak perlu bermanis-manis lagi, lebih baik hancur  lebur

In the king hall / “Ki Demang” eat and drink / Clattering weapon unsheathed / no need to mince words, better we destroyed

SEBLANG

Seblang lokenta

Wis wayahe bang-bang wetan

Kakang-kakang ngelilira

Wis wayahe sawung kukuruyuk

“Seblang” (kesurupan / keadaaan lupa diri) “lokinto” (percakapan / urusan) / Langit di timur sudah merah membara / Kakak-kakak bangunlah / Sudah saatnya si (ayam) jantan berkokok

Seblang lokinto / The sky in the east already glowing in red / Wake up brothers / It is time the rooster crowing

Lawang gede wonten hang jagi

Medalo ring lawang butulan

Wis biasane ngemong adine

Sak tindak baliyo mulih

Pintu besar ada yang menjaga / Lewatlah pada pintu yang rapuh / Sebagaimana biasanya mengasuh adik / Sekali pergi kembalilah segera

The big gate has guardians /  Go through the fragile door / As you take care of your little brother / Once gone, back soon

Sekar-sekar jenang

Maondang dadari kuning

Temuruna ageng alit

Kaula nyuwun sepura

Bunga – Bunga Jenang (bubur) / Memancarkan cahaya kuning / Turunlah yang Besar dan yang Kecil / Hamba mohon maaf

Jenang flowers / Radiates yellow light / The Big and The Small, come down / I beg the pardon

Layar-layar kumendung

Umbak umbul ring segara

Segarane tuan agung

Tumenggung numpak kereta

Layar-layar kemendung (bersusun-susun seperti awan) / Ombak dan gelombang di lautan / Lautnya Tuan Agung / Tumenggung naik kereta

Sails shaped like clouds / Tides and waves in the ocean / The ocean belong to “Tuan Agung” / A lord rides carriage

Lilira kantun

Sang kantun lilira putra

Sapanen dayoh rika

Mbok srungkubo milu tama

Bangunlah wahai yang Tersisa / Wahai yang Tersisa, bangunlah pula putra (putra-putramu) / Tegur sapalah tamu anda / Perempuan yang berselimut (yang sakit) perlu diutamakan

Wake up, O The Remaining / The Remaining, wake your sons up / Greet your guests / Women who wear the blanket need to be prioritized

Lilira guling

Sabuk cinde ring gurise

Kakang-kakang ngelilira

Sawah benda ring selaka

Bangkitlah guling (istri / wanita) / Sabuk cindai (sutera) di “guris”nya (yang menjadi penanda batas (?)) / Kakak-kakak bangunlah / Sawah (ditumbuhi pohon besar) “bendo” di selaka

Wake up , the bolsters (the wives) / “Cindai” belt as a sign / The brothers, wake up / Our rice field has grown big trees in “Selaka”

Kembang pepe

Merambat ring kayu arum

Sang aruma membat mayun

Sang pepe ngajak lungo

Bunga pepe (yang terbakar terik matahari) / Merayap di kayu harum / Yang harum bergoyang-goyang (dipenuhi kenikmatan) / yang terbakar terik matahari mengajak pergi

Pepe (who burnt by the sun) flower / Grew in fragrant wood / The fragrant wiggling / Those who burnt by the sun ask to leave

Ngajak lungo

Mbok penganten kariyo dalu

Ngenjot-ngenjot lakune

Baliyo ngeluru lare

Mengajak pergi / Masa penganten jangan kelewat masak (berlama-lama) / cepat-cepatlah jalannya / kembalilah memungut anak

Ask to leave / Don’t dwell on your wedding party / Hurry to walk / Try to adopt a kid

Lare dakon

Turokno ring perahu

Lurubana bana cinde

Kang kumendung welangsani

Anak biji dakon / Tidurkan di perahu / Lumuri (dengan) kasih (agar menjadi) sutera / Yang berjajar-jajar (seperti awan) terlihat mengagumkan

“Dakon” pawn / put to bed on the boat / coat it with love in order to be silk / Lining in a row like a cloud, look great