MUSIC: AN ENCOUNTER

In our contemporary society, which is ever more globalized, the idealistic concept of multiculturalism, which says that “peace will come to the world if we respect other cultures,” seems to have come to a dead end. With this global circumstances in view, Ensembles Asia Orchestra tries to work out and continue to propose the performance of music as a means of building new forms of human relationships and forging agreements.

Ensembles Asia Orchestra is an attempt to work out new methods for creating a single unit while having people from diverse backgrounds respect one another, an ambitious project that proposes a new vision for international cultural exchange in the midst of globalization.

Unlike ordinary orchestras, which seek to improve their technique or give correct performances, Ensembles Asia Orchestra has put on programs with the general public, programs that anyone can participate in, irrespective of whether they have instruments or experience. In performing with people who have no experience with music or performing in a non-technical way with people who may have such experience, we have returned to the basic question of what music is and have carried out a variety of activities to investigate the nature of music.

In attempt to explore the idea, Ensemble Asia Orchetrsa in partnership with Teater Garasi, and suported by Laras – Studies of Music in Society, present a public discussion and performance entitled “Embracing Music – Embracing People”

PUBLIC DISCUSSION
EMBRACING MUSIC – EMBRACING PEOPLE
Teater Garasi / Saturday 25 Februari 2017 15:30

Speaker :
OTOMO Yoshihide
MORINAGA Yasuhiro
ARIMA Keiko

Moderator :
Rizky SASONO

MUSIC PERFORMANCE
Teater Garasi I Saturday 25 Februari 2017 19:30

WYST COLLECTIVE
(Yennu Ariendra, Lintang Raditya, Nadya Hatta, Iqbal Lubys, Asa Rahmana)

OTOMO Yoshihide

MORINAGA Yasuhiro

Studio Work // Autolycus’s Buying Song

Autolycus’ Buying Song taken from William Shakespeare’s Winter’s Tale. Singing in Japanese language with Vocaloid. The composition is for the rehearsal stage of the Winter’s Tale 2017 SPAC production, and will be singing by the actress. Composed and Remixed by Yennu Ariendra. 2017.

Youtube link: https://www.youtube.com/watch?v=GGVDHMbzPj0&t=14s

(2013-2014) Jalan Emas // Golden Way

Jalan Emas adalah sebuah pertunjukan kontemporer berbasis musik. Pertunjukan ini berangkat dari kegelisahan atas maraknya bisnis yang mengkomersialkan harapan beserta fenomena irasionalitas yang menyertainya. Harapan dalam hal ini adalah kesuksesan finansial, kemapanan dan sejenisnya. Mulai dari motivator dengan segala jenis dagangannya (buku, seminar, sekolah, umroh, dsb), multi level marketing, bisnis investasi yang menjanjikan kekayaan dengan mudah bahkan hingga sampai pada praktek pesugihan.

Iming-iming kekayaan sering kali dilekatkan dengan ideologi yang ada (agama, norma-norma, etika, dsb) agar orang dapat mudah percaya dan dapat membenarkan segala tindakan atau keputusan mereka. Kenyataannya, segala utopia tentang kemapanan tersebut tidak selalu berakhir indah dan terbukti menuai perkara: investasi bodong, penipuan MLM, penggelapan, dsb.

Kegelisahan kami berlanjut pada asumsi-asumsi yang mengkonstruksi dan dikonstruksi oleh financial dream; Apa yang menggerakkan dan digerakkan oleh bisnis harapan, media, konsumerisme, tuntutan gaya hidup, dan bahkan para caleg dan partai politik peserta Pemilu. Kenyataan ini seperti menghadapkan kita pada terjadinya konversi nilai kesuksesan dan kebahagiaan dengan uang dan materi. Asumsi tersebut dipertegas oleh survey BPS tahun 2013 lalu yang menyebutkan bahwa kebahagiaan orang Indonesia ditentukan oleh kepuasan terhadap pendapatan finansial.

Utopia kesuksesan finansial ini menjadi masalah ketika hasrat untuk meraihnya menggiring kita pada irasionalitas, sebuah kondisi di mana nalar kritis dan hal lainnya dikesampingkan. Bagaimana ia mempengaruhi life value dan nilai-nilai kemanusiaan merupakan satu hal yang patut dipertanyakan.

DIGITAL ARTIST